Passer Baroe

Pasar Baru

DSC04337Pusat perbelanjaan ini dibangun pada tahun 1820 sebagai Passer Baroe sewaktu Jakarta masih bernama Batavia. Orang yang berbelanja di Passer Baroe adalah orang Belanda yang tinggal di Rijswijk (sekarang Jalan Veteran). Toko-toko di Passer Baroe dibangun dengan gaya arsitektur Cina dan Eropa.

Dari dulu hingga sekarang lokasi tersebut identik dengan pusat pembelanjaan untuk Textil. Kaum Wanita yang hendak membuat pakaian baru biasanya berbelanja ke toko-toko dari para pedagang WN keturunan India.

Dahulu Passer Baroe masih berbentuk jalan umum, dengan toko-toko disisi kiri kanan jalan di mana berbagai kendaraan masih dapat parkir di depan toko. Sejak tahun 1980-an, Pasar Baru sudah dirubah menjadi semacam daerah Pedesterian, semacam tempat perbelanjaan untuk pejalan kaki dan kendaraan harus masuk rumah parkir ataupun parkir di sisi jalan lain.  Jalanan yang sudah di con-blok dan di tutupi atap yang tinggi menambah kerindangan pejalan kaki. Walaupun memang suasana di sana agak panas, namun setidaknya sebagian area tersebut aman dari sengatan sinar matahari langsung. Itu merupakan nilai tambah tersendiri bagi calon pembeli di sana. Namun dari masa itu saja daerah pedesterian tersebut tidak bisa lepas dari PKL. Gaya pedestrian seperti di negara-negara Eropa lainnya pernah membuat suasana belanja di passer baroe nyaman, namun sekarang kenyamanan tersebut hilang.

Sejak tahun 2012 tampaknya ada peraturan baru, di mana kendaraan bermotor diperbolehkan memasuki daerah pedesterian tersebut dan parkir di depan toko. Suasana semakin tidak nyaman, untuk pemilik toko maupun untuk calon pembeli dan pejalan kaki.

Tambahan lagi dengan keberadaan para Pedagang Kaki Lima, terutama penjual makanan semakin banyak memenuhi bagian sebelah depan pertokoan. Di sisi sebelah utara kearah Pusat perbelanjaan Metro Pasar Baru sudah sejak lama berdiri lapak-lapak yang berjualan bermacam-macam barang dagangan.

Memang mula-mula tampaknya hanya di sekitar sisi tersebut PKL dikelompokan di sana, namun sekarang ini sudah hampir merata di sepanjang passer Baroe. Di malam hari setelah toko-toko tutup para PKL-PKL lainnya terutama yang berjualan pakaian mulai memajang dagangannya di sepanjang Pedesterian tersebut.

Pedestarian Passer Baroe sebenarnya sama dengar suasana pusat perbelanjaan di eropa yang kebanyakan berbentuk pedesterian. Di sana, Pedesterian itu benar-benar BEBAS kendaraan bermotor, baik motor ataupun mobil. Kendaraan yang diperbolehkan masuk juga yang hanya untuk pendistribusian barang-barang untuk toko-toko di pedestrian tersebut. Biasanya akses ke daerah tersebut hanya dihadang dengan tiang sekitar setengah meter, yang bisa di buka atau diturun-naikan secara otomatik. Selain itu juga tidak terdapat banyak Pedagang Kaki Lima yang membuat Pedesterian tersebut kotor dan semrawut. Ada beberapa PKL yang diberikan izin khusus berdagang secara permanen, di gubuk ataupun kios yang sangat rapi dan menjaga kebersihan sekelilingnya.

Entah kapan suasana pedesterian dapat diterapkan kembali di Passer Baroe, sehingga suasana nyaman seperti di berbelanja di negara Eropa dapat terwujud.

Be the first to comment on "Passer Baroe"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial